PGRI Makasar • Aktivitas
Update informasi terbaru seputar aktivitas, pelatihan, dan program kerja PGRI Kecamatan Makasar.
24
SEP
Mempererat Harmoni Sejak Dini: IGTKI Kecamatan Makasar Jakarta Timur Gelar Lomba Keterampilan Agama PGRI Kec. Makasar — Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kecamatan Makasar Jakarta Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam menanamkan nilai toleransi dan kebhinekaan sejak usia dini. Melalui kolaborasi bersama para pemangku kepentingan dan orang tua murid, IGTKI Kecamatan Makasar menyelenggarakan kegiatan rutin tahunan berupa Lomba Keterampilan Agama. Acara yang berlangsung khidmat dan meriah ini dihadiri oleh sejumlah stakeholder, di antaranya Kasi TK, (Hj. Rusdah), Perwakilan Kasatlak dan Kecamatan Makasar, Ketua Yayasan Ardhya Garini Halim Perdanakusuma, Ketua PGRI Kecamatan Makasar (Ahmad Pelani), Korwas Jakarta Timur (Endah Wahyuningsih), Penilik PAUD (PP PAUD) Kecamatan Makasar, serta jajaran pengurus IGTKI Jakarta Timur. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kasi TK ini menjadi momentum penting bagi tumbuh kembang anak-anak di wilayah Kecamatan Makasar Jakarta Timur yang Melibatkan kurang lebih 45 lembaga pendidikan anak usia dini, ajang ini dirancang sebagai wadah inklusif untuk memfasilitasi ketrampilan yang dimiliki oleh para siswa dalam beragama. Kegiatan ini juga mengakomodasi potensi peserta dari berbagai latar belakang agama—baik Islam, Kristen, Hindu, Buddha, hingga Konghucu—panitia menyelenggarakan tujuh kategori perlombaan, antara lain: 1.Lomba Praktik Salat, 2. Lomba Hafalan Alkitab, 3.Fashion Show Lintas Agama, 4.Mewarnai Lintas Agama, 5.Hafalan Surat & Sambung Ayat, 6. Hafalan Hadis & Doa Harian, 7. Tari Kreasi Islami Wujud Sinergi dan Kolaborasi Keberhasilan penyelenggaraan acara ini tidak lepas dari dukungan penuh para orang tua murid serta sinergi lintas pihak. IGTKI Kecamatan Makasar Jakarta Timur menegaskan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan suportif. Melalui kegiatan ini, diharapkan benih-benih toleransi, kebersamaan, dan rasa saling menghargai antarumat beragama dapat tertanam kuat dalam diri generasi penerus bangsa sejak usia dini.
Baca detail kegiatan →
10
AUG
PGRI KECAMATAN MAKASAR GALANG SOLIDARITAS, BANTU SISWA-SISWI KORBAN KEBAKARAN KEBON PALA PGRI Kec. Makasar - Bencana tak pernah pandang bulu saat menghampiri, dan kali ini meninggalkan duka mendalam bagi sejumlah warga, termasuk anak-anak usia sekolah. Merespons musibah kebakaran yang melanda kawasan permukiman di Kebon Pala, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Makasar mengambil langkah cepat dan nyata dengan menunjukkan kepedulian mendalam bagi para siswa-siswi yang menjadi korban. Peristiwa nahas tersebut terjadi di Jalan Kolonel Sutomo 3, RT 007/RW 006, Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, pada Sabtu siang, 8 Agustus 2026. Di tengah terik matahari, warga dikejutkan oleh kobaran api yang dengan cepat membesar dan melalap rumah-rumah tinggal di kawasan padat penduduk tersebut. Di balik puing-puing sisa kebakaran yang berhasil dipadamkan, tertinggal kisah pilu dari para pelajar yang kehilangan tempat tinggal, pakaian, hingga perlengkapan sekolah mereka. Menyadari besarnya dampak psikologis dan materiil yang dialami anak didik, keluarga besar PGRI Kecamatan Makasar langsung bergerak merapatkan barisan. Bagi para tenaga pendidik, ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat untuk mengabdi. Aksi solidaritas dan penggalangan kepedulian ini merupakan bentuk nyata kehadiran guru di saat siswanya tengah menghadapi masa-masa paling sulit. Melalui koordinasi yang cepat, bantuan diharapkan dapat segera disalurkan untuk memastikan anak-anak yang terdampak tetap memiliki semangat belajar dan tidak kehilangan akses terhadap hak pendidikannya. Musibah di Kebon Pala ini menjadi panggilan nurani bagi kita semua. Langkah tanggap dari PGRI Kecamatan Makasar membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya soal transfer ilmu, tetapi juga tentang memupuk empati dan gotong royong. Semoga uluran tangan dari berbagai pihak dapat segera meringankan beban para korban, sehingga siswa-siswi kita dapat kembali tersenyum dan melangkah ke sekolah dengan penuh harapan baru.
Baca detail kegiatan →
14
JUL
SEMARAK PEKAN MUHARRAM 1448 H: PGRI KECAMATAN MAKASAR SALURKAN BANTUAN ALAT BELAJAR UNTUK YATIM PIATU PGRI Kecamatan Makasar – Peringatan bulan suci Muharram selalu identik dengan momentum refleksi dan kepedulian sosial, yang kerap dikenal oleh masyarakat luas sebagai "Lebarannya Anak Yatim". Semangat berbagi ini diwujudkan dalam sebuah langkah nyata dan penuh kehangatan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Makasar melalui penyelenggaraan Kegiatan Pekan Muharram 1448 H/2026. Bertempat di Masjid Universitas Borobudur, kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, acara ini berlangsung dengan khidmat dan dipenuhi senyum sumringah dari ratusan siswa-siswi yang hadir. Di bawah naungan tempat ibadah yang sejuk tersebut, para pahlawan tanpa tanda jasa berkumpul bukan untuk mengajar di depan papan tulis, melainkan untuk menebarkan kasih sayang langsung kepada anak-anak yatim dan piatu yang membutuhkan pelukan moral serta dukungan materiil. Skala kegiatan yang diinisiasi oleh PGRI Kecamatan Makasar ini terbilang sangat masif dan inklusif. Bantuan didistribusikan secara merata menyentuh 132 lingkungan sekolah yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Makasar. Tanpa membedakan status, bantuan ini disalurkan kepada siswa-siswi dari sekolah negeri maupun swasta, mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hingga Sekolah Luar Biasa (SLB). Adapun wujud kepedulian yang diberikan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pendidikan, yakni berupa pembagian paket alat belajar. Pemilihan bantuan berupa perlengkapan sekolah ini sangat selaras dengan visi para pendidik, di mana mereka ingin memastikan bahwa tidak ada satupun anak, apa pun latar belakang keluarganya, yang terhambat proses belajarnya hanya karena keterbatasan fasilitas penunjang. Bagi anak-anak yatim dan piatu, perhatian ini tentu menjadi suntikan motivasi yang luar biasa. Bahwa di tengah ujian kehilangan orang tua, mereka memiliki orang tua asuh di sekolah—yakni para guru—yang selalu memikirkan masa depan dan pendidikan mereka. Kehadiran siswa-siswi SLB dalam penerimaan bantuan ini juga memberikan pesan kuat bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk dirangkul dan difasilitasi dalam mengejar cita-citanya. Kegiatan Pekan Muharram 1448 H di Masjid Universitas Borobudur ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial keagamaan tahunan. Lebih dari itu, acara ini mengukuhkan komitmen PGRI Kecamatan Makasar sebagai wadah pendidik yang tidak hanya berdedikasi dalam membangun kecerdasan intelektual di ruang kelas, tetapi juga membangun kecerdasan emosional dan sosial anak bangsa melalui keteladanan dan aksi nyata.
Baca detail kegiatan →
24
JUN
Edutrip PGRI Kecamatan Makasar di Sekolah Sungai Ciliwung MATPECI Halo Sobat Hijau! Pernah terbayang tidak, kalau tumpukan sampah yang biasanya cuma jadi masalah ternyata bisa disulap menjadi sesuatu yang bernilai? Pengalaman berharga inilah yang baru saja didapatkan oleh rombongan guru-guru hebat dari PGRI Kecamatan Makasar dalam kegiatan edutrip mereka ke Sekolah Sungai Ciliwung MATPECI (Masyarakat Peduli Ciliwung). Kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan santai menikmati bantaran sungai, lho. Para pendidik ini terjun langsung untuk belajar bagaimana mengelola lingkungan dengan cara yang kreatif dan aplikatif. Penasaran apa saja ilmu seru yang mereka pelajari? Yuk, kita simak bareng-bareng! 1. Memilah Sampah: Dari Barang Bekas Jadi Kreativitas Tanpa Batas Langkah pertama yang dipelajari dalam edutrip ini adalah fondasi dari segala pengelolaan lingkungan: pilah sampah. Para guru diajak untuk membedakan dengan tepat mana sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Di MATPECI, sampah anorganik seperti botol plastik dan kemasan sachet tidak berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir. Mereka mempraktikkan cara menyulap barang-barang tersebut menjadi karya kreatif (upcycling), seperti pot tanaman gantung, tas, hingga hiasan kelas. Bayangkan kalau kreativitas ini diterapkan, pasti sekolah-sekolah di Kecamatan Makasar jadi makin warna-warni dan tentunya bebas dari tumpukan sampah plastik! 2. Meracik Cairan Ajaib "Eko-Enzim" Ini adalah salah satu ilmu paling menarik yang dibawa pulang oleh para guru. Praktik pembuatan eko-enzim (eco-enzyme) mengubah cara pandang kita terhadap sisa dapur. Eko-enzim adalah cairan hasil fermentasi dari sisa kulit buah, potongan sayuran segar, gula merah (atau molase), dan air. Setelah difermentasi selama beberapa bulan, campurannya menghasilkan cairan serbaguna yang bisa digunakan untuk: • Pembersih lantai alami yang wangi dan ramah lingkungan. • Pupuk cair untuk menyuburkan tanaman sekolah. • Cairan yang membantu menjernihkan air selokan atau sungai yang tercemar. Proses pembuatannya yang mudah dan minim biaya sangat cocok untuk dijadikan proyek sains lingkungan siswa di sekolah. 3. Kenalan dengan Maggot BSF: Si Kecil Pahlawan Pengurai Nah, ini dia bagian yang paling seru (dan mungkin sedikit menantang bagi yang geli): belajar budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly). Maggot atau larva dari lalat tentara hitam ini adalah pahlawan super dalam urusan sampah organik. Mereka bisa melahap sisa makanan, sayuran busuk, atau sampah dapur dengan kecepatan luar biasa! Selain membuat lingkungan bersih dari tumpukan sampah membusuk yang memicu bau tak sedap, maggot memiliki siklus yang menguntungkan. Larva yang sudah besar punya nilai ekonomi tinggi sebagai pakan ternak unggas dan ikan karena kandungan proteinnya yang sangat padat. Sisa kotoran dari maggot (kasgot) juga menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi. Membawa Pulang Semangat Peduli Lingkungan Kegiatan edutrip PGRI Kecamatan Makasar ke Sekolah Sungai Ciliwung MATPECI ini membuktikan bahwa belajar itu tidak harus selalu di dalam kelas, dan guru adalah agen perubahan yang sesungguhnya. Dengan melihat, menyentuh, dan mempraktikkan langsung, para pahlawan tanpa tanda jasa ini mendapatkan bekal luar biasa. Harapan terbesarnya? Ilmu dan semangat pelestarian dari bantaran Ciliwung ini akan ditularkan kepada ribuan siswa di sekolah masing-masing, menciptakan generasi masa depan yang lebih peduli, kreatif, dan bijak dalam menjaga kelestarian bumi. Salam bumi hijau!
Baca detail kegiatan →